• Mencari Ruang Publik Lewat Seni Rupa Temporer

    01. Ruang publik dalam kategori spasial kota adalah ruang yang ditujukan untuk kepentingan publik. Modernitas dalam hal ini harus bertanggung jawab atas dehumanisasi yang turut dihasilkannya; ruang publik adalah salah satu jalan bagi anggota masyarakat menemukan kembali ruang kemanusiaannya. Dalam strategi lingkungan, ia adalah fungsi yang dibayangkan (dibayangkan publik membutuhkannya dan dibayangkan pula publik akan menggunakannya untuk kegiatan sosial-komunal atau personal yang produktif). Beberapa prasyarat harus dipenuhi agar bayangan atas fungsi ini bisa terwujud. Ruang publik bisa berarti tempat (plaza/piazza/alun-alun, taman/hutan kota) tapi mungkin lebih luas dari itu sebagaimana tempat umum (wc umum, rumah sakit umum) tidak selalu berarti ruang publik. Dalam perencanaan tata-kota yang berhasil, apa yang dibayangkan/dirancang dapat terwujud pada (atau mengkonstruksi) kenyataan praktik sehari-hari. Tidak seluruh kasus strategi dan kenyataan mencapai kesepadanan. Strategi tata kota belum tentu berhasil. Faktor metode pendekatan yang keliru atau usang cenderung menjadi penyebabnya.

    02. Jika strategi tata kota mungkin keliru, bisa dibayangkan apa yang terjadi jika suatu kota tidak memiliki strategi tata kota sama sekali. Mungkinkah suatu kota tidak memiliki strategi tata kota sama sekali? Bahwa setiap kota pasti mengeluarkan kebijakan tata kota, itu adalah kenyataan yang dituntut percepatan dunia modern. Setiap kota, misalnya, haruslah punya kebijakan mengenai masalah parkir. Sayangnya, kebijakan tidak selalu datang dari suatu rancang strategis. Kebanyakan kota di Indonesia telah berhasil menujukkan kegagapannya menghadapi tuntutan perubahan dunia modern dan semakin gugup begitu kebijakan-kebijakan taktis silih berganti dikeluarkan namun hasilnya kacau balau. Jika sudah pernah diduga sebelumnya bahwa transportasi publik yang buruk berseteru dengan meningkatnya urbanisasi dan membludaknya kendaraan pribadi (dan kemudian berakibat pada pola konsumsi bahan bakar, kesadaran politik lingkungan, dan seterusnya), kenapa jalan keluar selalu terlambat?

    03. Kesenian, seperti seni rupa, seperti juga kota, bergerak dalam sekian aras modern yang bercabang dan menghasilkan pula kecenderungan yang beragam. Salah satu yang paling kuat adalah kencenderungan untuk meninggalkan ruang-ruang dan tempat (dipajangnya) seni yang selama ini telah terlembaga. Sebutlah, galeri. Tanpa menjadi monolitik, di antara yang bergerak meninggalkan galeri ini adapula, yang disebabkan karena berbagai faktor, melakukan proyek-proyek seninya di tempat-tempat umum, dinding-dinding nganggur di pinggir jalan, mall, dan berbagai situs lain yang berupaya menembus jarak spasialnya dengan orang banyak.

    04. Galeri bersifat pasif: menunggu kedatangan pengunjung (cultivated family dari seni rupa). Dinding di pinggir jalan bersifat terbuka, dilalui oleh banyak orang (bukan pengunjung, tidak selalu dalam intensi mengapresiasi seni). Seni di sana diandaikan bisa dinikmati oleh siapapun.

    05. Kata andai di poin no.4 ditulis miring sebab, seperti juga strategi tata kota, karya seni yang ditampilkan bukan tidak mungkin tidak disukai.


    06. Seni Rupa Temporer bisa jadi bukanlah pengertian yang komprehensif mengenai suatu genre atau gaya seni rupa tertentu. Frase ini ditujukan untuk menekankan karakter kesementaraannya; suatu seni rupa yang memang dikerjakan dengan resiko hilang, rusak, berdiam dalam rentang waktu yang pendek.

    07. Sebagai sebuah bagian dari dialektika pertumbuhan kota, seni temporer ini telah berkembang di banyak tempat di seluruh dunia. Suatu perkembangan yang telah pula menghasilkan peta disiplin estetik, teknik, tematik yang cukup luas dan teruji. Ia mengambil banyak nama: mural, graffiti. Adapula sebutan bagi jejaring dalam sistem kulturnya: street art (di mana direpresentasikan pula musik, out-door dance, battle mc, dan seterusnya). Ia juga punya sistem bahasanya sendiri: bombing, tagging, etc. Sebagai mana pengaruh seni-seni modernis di awal abad 20 pada seniman kita, perkembangan seni temporer disini juga diwakili oleh beberapa seniman individual maupun kelompok.

    08. Karakter temporer dari seni yang berlangsung di jalan dan tempat-tempat umum ini mengandaikan bahwa respon langsung dari publik (yang sangat beragam itu) juga bersifat terbuka.

    09. Seni rupa di tempat umum dilembagakan oleh negara melalui bentuk-bentuk seni yang mengejar sifat permanen (patung pahlawan, tugu peringatan, diorama, dan lain-lain). Sekalipun berangkat dari asumsi-asumsi suatu studi kelayakan, karakter permanen ini mengandaikan bahwa perubahan-perubahan sosial akan tetap menyesuaikan diri dengan kesenian tersebut. Berbeda dengan proyek preservasi arsitektur (yang melewati proses seleksi sejarah sebelum menjadi tanda sejarah sehingga harus dilembagakan) seni permanen ini sejak awal mengandaikan diri sebagai pemenang sejarah.

    10. Dalam beberapa tahun terakhir proyek seni luar ruang alternatif (bukan negara) yang di inisiasi oleh beberapa seniman lokal di kota mereka masing-masing (Yogya, Jakarta) mungkin untuk dilihat (dan melihat diri) sebagai suatu strategi kebudayaan dalam menciptakan ruang-ruang publik alternatif. Sebut saja proyek mural Apotik Komik atau Taring Padi.

    11. Berada di luar ruang, juga selalu diidentifikasi dengan proyek demokratisasi seni; yaitu bahwa seni seharusnya menjadi milik semua orang dan bukan sekedar kekuasaan beberapa golongan penentu nilai (dan selera).

    12. Di tingkat praktik, seniman harus memasuki skema sosial yang rumit dan berkelindan sehingga niatan untuk mengadvokasi pandangan atas lingkungan kota (dan seni) itu sendiri butuh suatu advokasi politik dan budaya yang lebih luas. Praktik kesenian kolektif tidak selalu serta merta menumbuhkan kesadaran politik lingkungan. Strategi wacana, adalah suatu kerja merancang diskursus, bukan sekedar melempar wacana dan membiarkannya mati.

    13. Proyek re:publik ini dalam beberapa sudut pandang (berkaitan dengan keterlibatan publik, isu perkotaan) bisa saja terlihat usang. Bahkan bisa saja disebut langkah mundur. Begitupun pada kenyataannya, langkah-langkah maju yang telah diambil sebelumnya adalah inspirasi dari proyek ini. Untuk mengudar kembali berbagai kemacetan yang berlangsung di tingkat praktik selama ini, proyek ini menempuh resiko untuk mengambil suatu awalan baru, yang setidaknya terasa segar.

    14. Awalan yang dimaksud adalah memulai kembali melakukan fasilitasi atas beberapa niatan, kecenderungan, dan keinginan segelintir seniman dalam mempresentasikan karya-karyanya di ruang publik. Sebagai proyek memfasilitasi seniman, ia memposisikan dirinya untuk mempresentasikan estetika (atau non-estetika) dan gagasan (atau non-gagasan) seniman di tempat-tempat umum. Seniman-seniman tertentu yang dipilih karena selama beberapa tahun ini, dalam kondisi dan pasar wacana macam apapun, terus berkonsentrasi untuk melakukan seni-rupa di tempat non-konvensional. Sebagai bahan perbandingan, proyek ini juga mengundang keterlibatan seniman yang datang dari konteks perkotaan yang berbeda (Atlas, Sun7 (Paris)).

    15. Harapan dari fasilitasi ini adalah pembiakan secara sosial: mengundang, memancing, mendorong pihak-pihak yang merasa berkepentingan untuk merespon proyek ini (dan menempatkannya dalam skema jejaring lingkungan yang bisa diraihnya) dan atau menginisiasi proyek-proyeknya sendiri. re:publik tidak bermaksud untuk menjadi pusat pengelolaan seni temporer yang mengerjakan atau berniat mengatasi persoalan lingkungan yang tak teraih ujung-ujungnya dalam satu dekapan tangan. Dalam hal ini, proyek ini telah memilih bahwa presentasi karya seniman adalah yang paling masuk akal yang bisa dikerjakan disebabkan oleh latar belakang dan spesifikasi para pekerja di belakangnya.

0 komentar:

Poskan Komentar